Ada satu kata yang selalu disebut orang ketika berbicara tentang cara kerja M. Jusuf Kalla : Lugas. Ketika di Poso tidak ada pihak yang mau duduk semeja, ia datang. Ketika perundingan Helsinki menemui jalan buntu, ia tidak larut dalam perdebatan, ia cari titik temu yang bisa diterima semua pihak dan terus melangkah. Ketika kata “perdamaian” terasa seperi kekalahan di Malino, ia ganti dengan “menghentikan konflik”. Langsung ke inti, tanpa jalan memutar.
Tapi lugas hanya menjelaskan apa yang terlihat. Buku ini menelusuri apa yang ada di baliknya.
Ditulis oleh Husain Abdullah, Juru Bicara M. Jusuf Kalla yang menyaksikan langsung proses-proses itu, buku ini membaca tiga konflik besar Indonesia, Poso, Ambon, dan Aceh, melalui satu lensa yang jarang digunakan: karakter personal pemimpin. Kerangka yang digunakan disebut idiosinkratik, yakni cara membaca kepemimpinan bukan dari jabatan, melainkan dari siapa pemimpinnya, nilai yang ia bawa, pengalaman yang membentuk cara berpikirnya, dan kepekaan yang lahir dari perjumpaan panjang dengan manusia yang berbeda-beda.
Kelugasan JK bukan bawaan alam. Ia adalah hasil tempaan dari banyak lapisan: keluarga pedagang Bugis yang mengajarkan ketegasan dalam bertransaksi, organisasi yang melatih kepekaan membaca manusia, panggung politik yang mengasah naluri membaca momentum, dan dunia bisnis yang mendidik keberanian dalam mengambil keputusan. Semua lapisan itu menyatu dan bekerja sekaligus, dan yang tampak dari luar hanyalah satu kata: lugas.
Buku ini bukan hanya tentang konflik yang berhasil dihentikan. Ia tentang cara berpikir yang ada di balik setiap keputusan itu. Bahwa konflik tidak selesai dengan menunggu. Bahwa perdamaian tidak selalu hadir dari kondisi yang matang, melainkan dari pemimpin yang mampu membaca situasi dan bertindak pada saat yang paling menentukan.
JK adalah buktinya, dan buku ini adalah jejaknya.
Penulis : Husain Abdullah
Editor : Dr. Rahmat Fadhli, Ed.M.
Jumlah Halaman : xviii + 258
Ukuran : 15,5 x 3 cm









