Dalam studi perdamaian, konflik akan selalu ada. Yang menentukan adalah cara mengelolanya. Begitulah cara M. Jusuf Kalla bekerja setiap kali Indonesia terbakar. Di Poso, di Ambon, di Aceh lewat MoU Helsinki yang mengakhiri tiga dekade konflik bersenjata, hingga di Doha ketika ia duduk berdialog langsung dengan Hamas. la masuk justru saat banyak orang memilih menunggu. Pertanyaannya: mengapa pendekatannya berhasil mentara cara- cara lain berkali-kali gagal?
Husain Abdullah, yang menyaksikan langsung sejumlah proses perdamaian paling sulit di Indonesia, menjawabnya dengan menelusuri tujuh kunci yang membentuk M. Jusuf Kalla sebagai juru damai: akar karakter, tempaan kepemimpinan, modal lima kekuatan di meja runding, ujian di tiga medan konflik, kemampuan membaca momentum, logika berpikir yang bisa diwariskan, dan keberlanjutan perdamaian tanpa bergantung pada satu orang. Di dalam buku ini juga diulas 5 resep perdamaian JK yang selama ini digunakannya sebagai mediator konflik.
Buku ini bukan biografi, apalagi pujian. Ini manuskrip yang dibukukan: bagaimana seorang juru damai dibentuk, bagaimana ia bekerja, dan bagaimana cara kerjanya bisa diteruskan oleh siapa saja. Yang paling dibutuhkan Indonesia hari ini bukan hanya seorang M. Jusuf Kalla baru, tapi warisannya. Bangsa yang belajar dari caranya berpikir, merumuskan solusi, dan bertindak menyelesaikan konflik.
Penulis : Husain Abdullah
Editor : Dr. Rahmat Fadhli, Ed.M.
Jumlah Halaman : xviii + 326 hlm
Ukuran : 15,5 x 23 cm









